Tangerang, BENTANGTV.com— Diskusi Publik bertema “Membangun Kronjo, Menuju Ekonomi Kreatif: Menggali Potensi Pasar, Pertanian, UMKM dan Pariwisata Lokal” menghasilkan sejumlah aspirasi masyarakat yang kemudian dirumuskan dalam petisi sebagai bentuk dorongan kepada pemerintah agar segera mengambil langkah nyata. Sabtu, (3/10/2026).
Kegiatan yang digagas Benteng Rakyat Tangerang (BENTANG) bersama KSM Kronjo Hijau dan FORTTA tersebut mempertemukan tokoh masyarakat, aktivis, pelaku usaha dan sejumlah elemen masyarakat untuk membahas berbagai persoalan sekaligus menggali potensi ekonomi di Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang.
Dalam diskusi, persoalan Pasar Tradisional Kronjo menjadi salah satu pembahasan utama. Kondisi pasar, persoalan pengelolaan, harga jual kios, hingga kebutuhan revitalisasi menjadi perhatian peserta.
Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Ian Mulyana, menilai persoalan yang berkembang perlu dibawa ke forum yang lebih resmi melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP).
Ia juga menyoroti ketidakhadiran Perumda dan Camat dalam forum diskusi. Menurutnya, apabila tidak dapat menghadiri kegiatan, seharusnya dapat mengutus perwakilan agar aspirasi masyarakat tetap dapat didengar dan dibahas.
“Lebih afdol kalau persoalan ini dibawa ke RDP. Suratnya kita buat dan siap kita kawal,” menjadi salah satu dorongan dalam forum tersebut.
Sementara itu, Iyus Hambali menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat terhadap keberadaan pasar tradisional. Menurutnya, diperlukan formula yang tepat untuk menghidupkan kembali pasar serta menghilangkan pesimisme terhadap rencana revitalisasi.
Ia juga mendorong adanya regulasi yang jelas melalui pemerintah desa serta penyusunan skema revitalisasi yang dapat diajukan melalui APBD maupun kepada dinas teknis terkait.
Persoalan harga kios juga mendapat sorotan dari H. Sapuri. Ia meminta adanya klarifikasi terkait harga jual pasar karena dinilai cukup berat bagi pedagang.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian pedagang pesimis. Ia juga menyebut perlunya melihat perbandingan dengan pasar lain, termasuk Pasar Gotong Royong, serta membuka kemungkinan pembangunan secara swadaya.
Selain persoalan pasar, diskusi turut membahas potensi Waduk Kronjo, Pulau Cangkir dan Waduk Mekar Baru sebagai kawasan yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata lokal sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
H. Efrianto menyoroti kondisi Waduk Kronjo yang saat ini mengalami sedimentasi. Menurutnya, persoalan waduk perlu mendapatkan perhatian serius, terutama dalam menghadapi kebutuhan masyarakat dan pengembangan potensi kawasan.
Sementara H. Ali mendorong agar pengembangan pasar berjalan beriringan dengan penguatan UMKM dan sektor pariwisata. Ia juga meminta agar diskusi publik serupa kembali digelar dengan menghadirkan lebih banyak stakeholder serta mendorong bantuan modal bagi pelaku UMKM.
“Persoalan pasar harus lebih dikedepankan. UMKM juga harus mendapat dukungan modal. Potensi Waduk Kronjo dan Pulau Cangkir harus dikembangkan,” menjadi salah satu pokok aspirasi yang disampaikan dalam forum.
Di sisi lain, Ade Sunardi turut mendorong segera dilakukannya RDP. Ia juga menyoroti pembangunan TPST yang dinilai kurang layak serta persoalan defisit yang disebut mencapai sekitar Rp4 juta dan perlu mendapatkan klarifikasi serta penyelesaian.
Berbagai persoalan tersebut kemudian menjadi dasar lahirnya Petisi Masyarakat Kronjo. Petisi tersebut menjadi bentuk konsolidasi aspirasi masyarakat agar pemerintah tidak hanya menerima masukan, tetapi juga memberikan tindak lanjut yang konkret.
Sejumlah tuntutan yang mengemuka antara lain mendorong revitalisasi Pasar Tradisional Kronjo, peningkatan pengelolaan pasar, dukungan terhadap UMKM, pengembangan potensi wisata, penanganan Waduk Kronjo, serta keterlibatan aktif pemerintah dan stakeholder terkait.
Para tokoh dan aktivis Kronjo juga mendorong agar hasil diskusi tidak berhenti sebagai wacana, melainkan dilanjutkan melalui agenda resmi seperti RDP dan komunikasi langsung dengan pemerintah daerah serta dinas terkait.
Masyarakat berharap pemerintah dapat menjadikan aspirasi tersebut sebagai bahan evaluasi sekaligus dasar penyusunan kebijakan untuk mendorong Kronjo menjadi kawasan yang memiliki kekuatan ekonomi kreatif berbasis pasar, pertanian, UMKM dan pariwisata lokal.
Dengan lahirnya petisi tersebut, tokoh masyarakat dan aktivis Kronjo menegaskan bahwa pembangunan kawasan harus dilakukan secara terbuka, melibatkan masyarakat, serta memiliki arah yang jelas dan berkelanjutan.
(Adin/Red).
